Ticker

6/recent/ticker-posts

Tiga Menkeu di Era Prabowo, Pertumbuhan Ekonomi Bergerak Naik-Turun: Apa Kata Data BPS?


Ilustrasi: Pembangunan

JAKARTA, Koran.Web.Id (17-09-2026) — Pergantian Menteri Keuangan di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membuat perhatian publik kembali tertuju pada satu indikator penting: pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sebuah infografik yang beredar di media sosial membandingkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan periode kepemimpinan tiga Menteri Keuangan, yakni Sri Mulyani Indrawati, Purbaya Yudhi Sadewa, dan kini Suahasil Nazara.

Namun, ada satu catatan penting. Angka pertumbuhan ekonomi tidak bisa secara sederhana dianggap sebagai “rapor” seorang Menteri Keuangan, karena pertumbuhan PDB dipengaruhi banyak faktor, mulai dari konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor-impor, belanja pemerintah, hingga kondisi ekonomi global.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perekonomian Indonesia memang bergerak di kisaran 5 persen sepanjang periode tersebut, dengan perubahan dari kuartal ke kuartal.

Era Sri Mulyani: Pertumbuhan Berada di Kisaran 5 Persen

Pada masa Sri Mulyani masih menjabat Menteri Keuangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2024 mencapai 5,02 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Memasuki 2025, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tercatat 4,87 persen, kemudian meningkat menjadi 5,12 persen pada triwulan II dan 5,04 persen pada triwulan III.

Sri Mulyani kemudian menyerahkan jabatan Menteri Keuangan kepada Purbaya Yudhi Sadewa pada September 2025. Serah terima jabatan tersebut berlangsung pada 9 September 2025.

Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 akhirnya tumbuh 5,11 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan 2024 sebesar 5,03 persen.

Purbaya Masuk, Ekonomi Tumbuh 5,39 Persen pada Akhir 2025

Purbaya Yudhi Sadewa dilantik sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025, menggantikan Sri Mulyani.

Pada triwulan IV 2025—periode pertama yang secara penuh berlangsung setelah pergantian tersebut—ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen yoy. Angka ini menjadi pertumbuhan kuartalan tertinggi sepanjang 2025.

Momentum tersebut berlanjut ke awal 2026. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen yoy, menjadi salah satu angka pertumbuhan kuartalan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode yang sama, konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen dan sektor akomodasi serta makan-minum menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 13,14 persen.

Akan tetapi, pertumbuhan kemudian sedikit melambat pada triwulan II 2026.

BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen yoy, atau turun dari 5,61 persen pada triwulan sebelumnya. Meski demikian, secara quarter-to-quarter, ekonomi justru tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026.

Dengan demikian, ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan semester I 2025.

Suahasil Nazara Masuk Saat Data Kuartal III Belum Keluar

Babak baru terjadi pada September 2026.

Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan pada 14 September 2026, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 97/P Tahun 2026.

Pergantian ini membuat Suahasil menjadi Menteri Keuangan ketiga pada era pemerintahan Prabowo.

Menariknya, angka pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 yang dalam infografik masih diberi tanda tanya memang belum tersedia. Per 18 September 2026, data resmi BPS yang telah dirilis baru sampai dengan triwulan II 2026. Sebagai pembanding, BPS merilis data pertumbuhan ekonomi triwulan III 2025 pada 5 November 2025.

Artinya, belum tepat jika saat ini publik mengisi bagian “era Suahasil” dengan angka tertentu.

Ada Koreksi Penting pada Infografik

Jika merujuk pada data resmi BPS, terdapat kekeliruan penempatan angka pada infografik yang beredar.

Angka 5,61 persen merupakan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026, bukan triwulan II 2026. Sementara pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 adalah 5,29 persen.

Rangkaian data yang tepat adalah:

Periode Pertumbuhan PDB yoy
Triwulan IV 2024 5,02%
Triwulan I 2025 4,87%
Triwulan II 2025 5,12%
Triwulan III 2025 5,04%
Triwulan IV 2025 5,39%
Triwulan I 2026 5,61%
Triwulan II 2026 5,29%
Triwulan III 2026 Belum dirilis
Bukan Sekadar Soal Siapa Menteri Keuangannya

Rangkaian angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di sekitar level 5 persen meski terjadi pergantian Menteri Keuangan.

Namun, hubungan antara pergantian pejabat dan perubahan angka pertumbuhan tidak dapat disimpulkan hanya dari urutan waktu. PDB merupakan hasil interaksi berbagai komponen ekonomi, sementara kebijakan fiskal hanya menjadi salah satu faktor yang memengaruhinya.

Pada triwulan II 2026, misalnya, BPS mencatat pertumbuhan konsumsi pemerintah mencapai 15,97 persen, investasi tumbuh 6,87 persen, sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen. Dari sisi produksi, sektor listrik dan gas tumbuh paling tinggi, sebesar 10,81 persen.

Karena itu, angka pertumbuhan ekonomi lebih tepat dibaca sebagai gambaran kinerja perekonomian pada suatu periode, bukan sebagai hasil kerja satu pejabat secara individual.

Menunggu Angka Berikutnya

Kini perhatian akan tertuju pada kinerja ekonomi pada triwulan III 2026. Suahasil Nazara baru dilantik pada pertengahan September, sementara sebagian besar aktivitas ekonomi triwulan III telah berlangsung sebelum pergantian Menteri Keuangan.

Dengan kondisi tersebut, angka PDB triwulan III nantinya juga tidak dapat secara metodologis dilekatkan sepenuhnya kepada Suahasil.

Justru, data tersebut akan menjadi bagian dari gambaran yang lebih panjang mengenai bagaimana ekonomi Indonesia bergerak di tengah pergantian kepemimpinan fiskal.

Sementara itu, data yang sudah tersedia menunjukkan satu hal yang relatif jelas: pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bertahan di atas 5 persen dalam beberapa kuartal terakhir, tetapi lajunya tidak bergerak dalam satu arah.

Dari 5,04 persen pada triwulan III 2025, pertumbuhan naik menjadi 5,39 persen pada triwulan IV, kembali meningkat ke 5,61 persen pada triwulan I 2026, kemudian melandai menjadi 5,29 persen pada triwulan II.

Pertanyaan berikutnya bukan sekadar berapa angka pertumbuhan pada triwulan III, tetapi bagaimana kebijakan fiskal di bawah Menteri Keuangan baru akan berinteraksi dengan konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan sektor-sektor produktif untuk menjaga momentum pertumbuhan tersebut.



Posting Komentar

0 Komentar