JAKARTA, KORAN.web.id (28-09-2026) — Guruh Soekarnoputra meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan seni dan budaya Indonesia. Selama 73 tahun hidupnya, putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno itu dikenal melalui karya musik, tari, pertunjukan kolosal, busana, film, hingga berbagai eksplorasi seni yang memadukan tradisi Indonesia dengan musik modern.
Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB dalam usia 73 tahun. Kabar tersebut dikonfirmasi sejumlah pihak, termasuk Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.
Kepergian Guruh sekaligus mengakhiri perjalanan seorang seniman yang selama puluhan tahun menghasilkan karya dalam berbagai bentuk. Salah satu tonggak penting dalam perjalanan musiknya adalah album Guruh Gipsy, kolaborasinya bersama grup musik Gipsy.
Album yang dirilis pada 1977 itu digarap sejak 1975 hingga 1976 bersama Keenan Nasution, Chrisye, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman. Album tersebut dikenal karena mempertemukan musik progresif dengan unsur musik tradisional Indonesia. Pada 2007, Guruh Gipsy ditempatkan di posisi kedua dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia.
Namun, perjalanan Guruh dalam berkesenian sebenarnya telah dimulai jauh sebelum itu.
Dari Musik Bocah hingga The Beat-G
Sejak usia sekitar lima tahun, Guruh telah belajar berbagai bentuk seni, antara lain tari Jawa, Sunda, dan Bali. Ia juga belajar memainkan piano.
Memasuki masa remaja, Guruh mulai membentuk kelompok musik. Pada 1965, ketika berusia sekitar 12 tahun, ia membentuk The Beat-G. Lima tahun kemudian, pada 1970, ia membentuk The Flower Poetman.
Pada awal 1970-an, Guruh juga membentuk Gank Pegangsaan yang kemudian menjadi salah satu cikal bakal Gipsy.
Perjalanan tersebut kemudian mengantarkannya pada proyek musik yang menjadi salah satu karya penting dalam sejarah musik Indonesia, yakni Guruh Gipsy.
Guruh Gipsy dan Tonggak Musik Indonesia
Album Guruh Gipsy digarap pada 1975-1976 dan dirilis pada 1977. Album tersebut mempertemukan Guruh dengan para personel Gipsy, di antaranya Keenan Nasution, Chrisye, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman.
Album ini terdiri atas tujuh lagu:
Indonesia Maharddhika — 15:43
Chopin Larung
Barong Gundah
Janger 1897 Saka
Geger Gelgel
Smaradhana
Sekar Ginotan
Enam karya dalam album tersebut merupakan ciptaan Guruh, sementara Sekar Ginotan merupakan karya I Gusti Kompyang Raka.
Pada masa awal peredarannya, album tersebut juga tidak dipasarkan dengan pola distribusi kaset yang lazim. Sejumlah sumber mencatat album Guruh Gipsy dijual melalui jaringan distribusi alternatif, termasuk apotek dan salon.
Puluhan tahun kemudian, album tersebut memperoleh pengakuan penting. Rolling Stone Indonesia pada 2007 menempatkan Guruh Gipsy sebagai album Indonesia terbaik kedua sepanjang masa.
Lahirnya Swara Maharddhika
Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Maharddhika, sebuah wadah bagi anak muda untuk mengembangkan seni tari, musik, dan busana.
Sejumlah nama yang kemudian dikenal di dunia hiburan Indonesia pernah menjadi bagian dari lingkungan Swara Maharddhika, antara lain Titi DJ, Memes, dan Denny Malik.
Dari lingkungan tersebut kemudian berkembang konsep Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra, sebuah pertunjukan yang memadukan musik, tari kolosal, busana daerah, serta drama. Sejumlah pergelaran karya tersebut tercatat dalam perjalanan kesenian Guruh.
Pergelaran Karya Cipta dan Album-Albumnya
Sepanjang perjalanan berkaryanya, Guruh melahirkan sejumlah album dan pertunjukan.
Pada 1979, hadir Album I - Guruh & Swara Maharddhika, dengan karya seperti Damai, Januari Kelabu, Peri Kemanusiaan, Nostalgia Hotel des Indes, Kenang-kenangan, dan Zamrud Khatulistiwa.
Setahun kemudian, pada 1980, muncul Album II - Untukmu Indonesiaku! Vol 1 & Vol 2, yang antara lain memuat Untukmu Indonesiaku, Swara Maharddhika, Sabang Merauke, Gending Sriwijaya, dan Benteng Indonesia.
Pada 1984, Guruh melahirkan Album III - Cinta Indonesia Vol 1, yang memuat Cinta Indonesia, Aji Mumpung, Bidadari Timur, Melati Suci, dan Seni.
Kemudian pada 1986 hadir Album IV - Gilang Indonesia Gemilang, dengan sejumlah karya seperti Aku Tahu, Lenggang Puspita, Langkah Kembara, dan Gilang Indonesia Gemilang.
Pada 1987, Guruh juga menghadirkan Jak Jak Jak Jakarta, sebuah pergelaran kolosal dalam rangka HUT DKI Jakarta ke-462.
Karya-karya berikutnya terus bermunculan, antara lain Jalan-Jalan Sore pada 1989, NTXTC pada 1996, serta Puspa Ragam Karya Guruh Soekarnoputra pada 1998.
Album kompilasi tersebut menghimpun sejumlah karya yang dikenal luas, seperti Kala Sang Surya Tenggelam, Zamrud Khatulistiwa, Renjana, Gita Cinta, Lenggang Puspita, Melati Suci, Anak Jalanan, Galih & Ratna, dan Kembalikan Baliku.
Pada 1998, Guruh juga merilis Candu Asmara dalam format campur sari.
Pada 2000, ia terlibat dalam pembukaan PON XV Surabaya sebagai sutradara seni. Setahun kemudian, hadir karya Bung Karno - Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Karya Guruh terus berlanjut hingga generasi berikutnya. Pada 2013, ia menghadirkan Sri Mimpi Indonesia di Jakarta Convention Center.
Pada 2020, Puspa Ragam Karya 2020 menghadirkan remake karya-karya Guruh oleh generasi baru, antara lain NOAH melalui Kala Cinta Menggoda, serta Iwan Fals, d'Masiv, Vidi Aldiano, Afgan, Kahitna, dan Geisha.
Lebih dari 100 Lagu
Selain pertunjukan kolosal, Guruh dikenal sebagai pencipta lagu dengan repertoar yang panjang. Berdasarkan daftar yang disampaikan, lebih dari 100 karyanya tercatat dalam arsip musik nasional.
Pada era 1970-an, sejumlah lagu yang dikenal antara lain Renjana, Galih dan Ratna, Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, Anak Jalanan, dan Kala Sang Surya Tenggelam.
Renjana menjadi Juara Festival Lagu Populer Nasional 1976 dan kemudian mewakili Indonesia dalam World Popular Song Festival di Tokyo.
Memasuki dekade 1980-an, karya Guruh antara lain Melati Suci, Zamrud Khatulistiwa, Lenggang Puspita, Kembalikan Baliku, Damai, Januari Kelabu, dan Peri Kemanusiaan.
Kembalikan Baliku meraih Kawakami Award dan Audience Award di Tokyo pada 1987.
Sementara pada era 1990-an hingga 2020-an, sejumlah karya yang tercatat antara lain Kala Cinta Menggoda, Kala Sang Surya Gemilang, Sendiri, Marlina, Lagu Putih, Mahadaya Cinta, Setia, Candu Asmara, Cinta Indonesia, dan Aji Mumpung.
Lagu Kala Cinta Menggoda kemudian meraih penghargaan sebagai Pencipta Lagu Pop Terbaik dalam ajang AMI 1998.
Guruh dan Dunia Film
Guruh juga memiliki perjalanan panjang di dunia perfilman, baik sebagai penata musik maupun aktor.
Pada 1977, ia terlibat dalam Ali Topan Anak Jalanan sebagai penata musik.
Pada 1979, ia terlibat dalam Gita Cinta dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati.
Pada 1980, Guruh tampil dalam Untukmu Indonesiaku! sekaligus sebagai aktor, serta terlibat dalam Roman Picisan.
Pada 1985, ia tampil dalam Sembilan Wali/Wali Sanga sebagai Sunan Muria dan Untuk Sebuah Nama.
Keterlibatannya dalam film kemudian berlanjut melalui Misteri Hantu Selular pada 2011 dan Pacarku Anak Koruptor pada 2016.
Sejumlah karyanya juga hadir sebagai soundtrack serial, antara lain Kala Cinta Menggoda, Melati Suci, hingga Kala Sang Surya Tenggelam yang kembali diperkenalkan kepada generasi baru melalui serial Netflix Gadis Kretek pada 2023 dalam versi yang dibawakan Nadin Amizah.
Deretan Penghargaan
Atas perjalanan panjangnya di dunia seni, Guruh menerima sejumlah penghargaan.
Pada 1976, ia meraih Juara Festival Lagu Populer Nasional melalui Renjana.
Pada 1987, Kembalikan Baliku membawanya meraih penghargaan dalam Festival Lagu Populer Nasional serta Kawakami Award di Tokyo.
Pada 1991, Guruh menerima Chevalier de L'Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis.
Pada 1998, ia meraih penghargaan AMI sebagai Pencipta Lagu Pop Terbaik melalui Kala Cinta Menggoda.
Pada 2008, namanya masuk dalam daftar The Immortals: 25 Artis Terbesar Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia.
Dua tahun kemudian, pada 2010, Guruh menerima Lifetime Achievement Award AMI.
Pada 2011, ia menerima Nugraha Bhakti Musik Indonesia dari PAPPRI.
Warisan yang Melampaui Zaman
Perjalanan karya Guruh Soekarnoputra menunjukkan rentang eksplorasi seni yang luas. Ia bergerak dari musik progresif dan eksplorasi musik tradisional, pertunjukan tari kolosal, busana, musik pop, campur sari, film, hingga karya-karya yang kembali diperkenalkan oleh musisi generasi berikutnya.
Salah satu ciri yang menonjol dari perjalanan tersebut adalah upaya mempertemukan berbagai unsur seni Indonesia dengan bentuk musik dan pertunjukan modern.
Dari Guruh Gipsy, Swara Maharddhika, Pergelaran Karya Cipta, hingga lagu-lagu yang tetap dinyanyikan lintas generasi, nama Guruh Soekarnoputra menjadi bagian dari perjalanan panjang seni pertunjukan dan musik Indonesia.
Ia meninggalkan bukan hanya lagu, melainkan juga gagasan tentang bagaimana identitas budaya Indonesia dapat diterjemahkan ke dalam musik, tari, busana, dan pertunjukan.
Pada akhirnya, perjalanan 73 tahun Guruh Soekarnoputra tercatat sebagai perjalanan seorang seniman yang terus mencari bentuk untuk membuat Indonesia terdengar dan terlihat melalui karya-karyanya.





0 Komentar